Ketika Kau Kembali… “2″

24 Jul 2009

Berbeda dengan Laksmi

Another place,another dream…
Tubuh Dewi melayang terhempas angin di ketinggian,sedetik tiba serasa didasar aspal yang ia hampiri.

hah!!! Dewi terbangun dari mimpinya,peluh resah keringat membasahi tubuhnya.

Mimpi itu lagi Benaknya berkata dan lamunan pun kembali mengajak Dewi mengulangi kejadian yang telah berlalu tiga tahun silam.

Tiga Tahun yang Lalu

Sebuah ikrar cinta yang diucapkan Arman untuk Dewi yang kemudian membawa mereka untuk menguatkan cinta yang mereka punya dimeja pernikahan sebentar lagi akan tiba. Impian akan kebahagian bersama pun menggelora dihati Dewi,impian harapan seorang perempuan biasa menikahi pria yang dicintainya begitupun juga dengan Arman namun tanpa bisa dielakkan ternyata garis nasib yang tertulis ditangan kedua insan itu bertolak belaka.

Siang hari ketika sang matahari menghujam alam semesta,sebuah pesan singkat tiba diponsel Dewi.

Mba Dewi,Mas Arman masuk rumah sakit. Pesan singkat yang membuat Dewi meninggalkan pekerjaannya memilih beralih secepatnya kerumah sakit tempat dimana Arman dirawat.

Dua hari telah berlalu namun Arman belum siuman,Dewi dan keluarga masing-masing pun ikut cemas akan keadaan Arman yang tiba-tiba pingsan dan belum tersadarkan sampai saat ini.

Sore itu disaat hujan telah berhenti dan langit kembali cerah,Dewi melihat pelangi yang terukir indah dilangit yang biru dari sudut jendela rumah sakit Arman lalu senyum menghiasi pipi Dewi. Tiba-tiba saja suara desahan terdengar diruangan itu mengakibatkan Dewi melihat kearah tempat Arman berbaring dan ketika itu pula seperti melihat pelangi yang indah tadi seperti itu pulalah Dewi tersenyum bahagia karena Arman menggerakkan tangannya dan memegang kepalanya.

“Arman…,Arman…” Seru Dewi kepadanya.

Lalu Arman menjawab dan Dokter beserta keluarga Arman pun meramaikan ruangan.

Dokter menjelaskan kalau saat ini penyakit Arman belum diketahui maka dari itu untuk mengikuti perkembangan secara rutin Arman diharuskan dirawat dirumah sakit sampai tahu penyakit apa yang ia derita dan semua pihakpun menyetujui keputusan Dokter.

Dua minggu telah terhitung dari sejak Arman masuk rumah sakit dan hari ini Dokter yang menangani Arman mendatangi ruangan Arman kebetulan sore itu Arman hanya sendiri lalu Dokter mengatakan kepada Arman tentang hasil pemeriksaan penyakit Arman kalau ia menderita gejala penyakit yang bisa mengakibatkan Arman kehilangan ingatannya sementara dengan tiba-tiba dan Dokter juga tak bisa memastikan apakah penyakit ini dapat disembuhkan atau bahkan bertambah parah dan bisa mengakibatkan Arman kehilangan seluruh ingatannya perlahan-lahan. Arman terdiam sejenak dan dengan lapang dada ia menerima kenyataan,hari itu juga Arman memohon kepada Dokter yang berdiri disampingnya untuk tidak memberitahukan penyakit yang ia derita kepada siapapun juga apalagi Dewi sampai ia mempunyai keberanian untuk bicara langsung kepada keluarganya juga calon istrinya.

Walaupun Arman mencoba menguatkan dirinya namun keresahan akan masa depanpun terus bergemraut dikepalanya lalu ia merasakan sakit dikepalanya dan ketika itu Dewi masuk keruangan Arman tetapi Arman tak mengenali Dewi. Sepuluh menit kemudian Arman kembali mengingat siapa orang yang mengunjunginya itu,kejadian seperti ini beberapa kali terulang dan hal ini semakin lama-semakin membuat Arman takut untuk menepati janjinya menikahi Dewi. Ketakutan itupulalah yang membuat Arman berani jujur kepada keluarganya tentang penyakitnya dan keluarga Arman mendukungnya serta berjanji untuk merahasiakan hal ini kepada Dewi juga orang tua Dewi.

Pernikahan antara Arman dan Dewi yang semestinya telah terlaksanakanpun akhirnya tertunda,keraguan dikeluarga Dewipun perlahan-lahan mulai muncul lewat kecurigaan akan sikap Arman dan keluarganya yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu kepada pihak Dewi. Kecurigaan yang timbul dihati orang tua Dewi itu kian membesar sehingga membuat mereka tak bisa lagi membendung keinginan untuk mengetahui ada apa sebenarnya.

Lalu dengan segenap kemampuan demi kebahagian putri satu-satunya akhirnya kedua orang tua Dewi menemukan jawaban yang mereka cari dan terungkaplah kenyataan yang sesungguhnya kalau ternyata Arman menderita satu penyakit dan jika penyakit itu kambuh Arman akan mengalami kehilangan ingatan sementara. Hal ini membuat orang-orang disekitarnya terganggu dengan keadaan itu dan ketakutanpun datang menulari kedua orang tua Dewi yang menghawatirkan hal yang sama akan terjadi dalam pernikahan Arman dengan putri mereka kelak sehingga membuat mereka meragukan pernikahan yang telah ditunggu-tunggu oleh Dewi itu.

Kedua orang tua Dewi telah berjanji untuk merahasiakan hal ini kepada Dewi dan ikut sepakat untuk mengikuti permintaan keluarga Arman membatalkan pernikahan antara Dewi dan juga Arman,tentu saja ini semua merupakan permintaan dari Arman sendiri. Dewi yang hanya tahu kalau Arman menderita penyakit ringan itu seperti biasa selalu meluangkan waktunya setiap hari untuk menemui calon suaminya yang masih menerima perawatan dirumah sakit tetapi tidak seperti hari-hari yang telah lalu,siang itu Arman tidak ada diruangannya dan tempat tidur yang selama ini dibaringinya pun tertata rapi,bersih lalu ruangan itupun bersih juga dari barang-barang yang dimiliki Arman.

Dewi berlari menuju tempat informasi dan mencari tahu dimana Arman,kenapa ruangan itu kosong ? Salah seorang perawat dirumah sakit itupun memberitahu Dewi kalau pasien yang berada diruang itu tadi pagi telah keluar dari rumah sakit ini kemudian perawat itu pergi meninggalkan Dewi bersama kebingunngannya. Dewipun mencari dimana Dokter yang merawat Arman selama ini namun sayang Dokter itu sedang tugas kerumah sakit lain tapi Dewi tidak putus asa ia kemudian menekan tombol ponselnya dan menelpon keponsel Arman tapi alangkah membingungkan ponsel itu tidak aktif.

Dewi yang daritadi masih terlihat tenang kini sedikit panik lalu dengan gegasnya iapun mencoba beralih menelpon kerumah Arman tetapi sayang tidak seorangpun yang mengangkat telpon darinya. Kali ini Dewi tambah panik,ia kemudian berlari keluar rumah sakit dan menuju kerumah Arman secepatnya. Berulang kali bel rumah ia tekan-tekan,berulang kali pintu rumahpun ia gedor-gedor tetapi tetap tak seorangpun ditemuinya,ketika itupulalah hati kecil Dewi berfirasat ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.

Satu hari,dua hari,tiga hari dan satu minggupun berlalu dari menghilangnya Arman dan keluarganya,selama satu minggu Dewi selalu menghabiskan waktunya mendatangi rumah Arman dan menelponi ponsel Arman dan juga keluarganya tetapi semua sia-sia.

Tiga minggu berjalan cepat dihari-hari Dewi,Dewi yang masih terus sibuk mencari tahu dimana Arman kelihatan mulai merasakan sesuatu yang menyesakkan dadanya oleh tingkah laku Arman dan keluarga Arman yang merahasiakan sesuatu dengan cara menghilang darinya namun Dewi masih teguh dan percaya pada Arman dan janji-janjinya sehingga membuat Dewi berjanji untuk tak menangis dan menunggu Arman kembali datang menemuinya.

Denting jam dinding yang bergema menyadarkan Dewi dari lamunannya lalu iapun membasuh tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya.

Another place,another tears…
Gemericik suara aliran sungai membawa tetesan air mata Laksmi sore itu,seribu kehendak untuk mencintai Arman tanpa alasanpun mencabik-cabik pikirannya.

“Dia harus tahu…” Benak Laksmi berkata.

Malam datang,gemerlap cahaya bintang-bintang menerangi malam yang dingin itu.

Sebuah senyuman…

Kemudian Arman membalas kembali senyuman itu dan mengulurkan tangannya menyambut lembut jari-jemari Laksmi.

“Duduklah Laksmi,temani aku nikmati malam ini.” Ucap Arman pada Laksmi.

“Mas Arman,ada yang ingin aku katakan padamu Mas…” Lirih Laksmi dengan suara yang rendah.

Arman menatap dalam mata Laksmi “Ada apa…?” Tanya Arman padanya.

“Hhmmm,aku tak tahu apakah aku berhak mengatakan ini namun keresahan dihatiku membuatku berani mencoba untuk mengatakannya.”

Pandangan dan raut wajah Arman berubah penasaran.

“Kau harus tahu Mas,aku…” Kata itu terputus disela nafas Laksmi.

“Kenapa…?” Tanya Arman.

“Aku mencin…mencintaimu Mas.” Desah Laksmi mengungkapkan perasaannya.

Arman terpaku dan diam tak menjawab.

Malam itu menjadi malam dimana Laksmi mengungkapkan perasaannya kepada Arman disaksikan hembusan angin malam dan langit-langit yang ditaburi berjuta bintang. Mereka berdua beranjak masuk kedalam rumah yang sekarang ditempati oleh Arman,Arman mengantarkan Laksmi sampai kedepan pintu kamarnya tetapi Arman masih belum memberikan jawabannya pada Laksmi padahal ia sendiri begitu mengerti kalau Laksmi sangat mengharapkan jawaban darinya. Arman tetap tak memaksakan diri ketika dia ingin mengucapkan sesutau kepada Laksmi tiba-tiba saja Laksmi menghentikan bibir Arman yang baru saja ingin berbicara dengan meletakkan jemarinya yang lembut diatas bibir Arman lalu Laksmi melempar senyuman ayunya seolah ia paham akan hati Arman yang malam ini belum bisa menjawab cintanya.

“Selamat tidur Mas Arman.” Nada lembut terdengar ditelinga Arman dan bersama waktu yang berjalan mereka larut terbuai dalam malam.

Relung bulan sabit menatap Arman dalam rintihan,sekali lagi semuanya terulang. Rasa sakit yang teramat datang,kehampaan dan kesesakkan pikiran antara cinta lalu dan yang datang membawanya terhempas terdiam dalam bisu,tak tersadarkan diri…

Ada apakah dengan Arman…? Mampukah dia melawan sakit yang menyala dan membuka matanya…?

Bagaimanakah dengan Laksmi yang masih belum terjawab perasaannya…?

…dan bagaimana pulakah dengan harapan cinta Dewi yang masih penuh dengan tanya…?

Ikuti kelanjutannya di Chapter berikutnya…

Salam Rika&Redova :D


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post